Jejak Langkah

1997

Kontrak Karya generasi keenam diberikan kepada Proyek Martabe. Wilayahnya mencakup Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan, dan Mandailing Natal.

2001

PT Horas Nauli menggantikan PT Danau Toba Mining mengembangkan Tambang Emas Martabe.

2003

PT Newmont Horas Nauli menggantikan PT Horas Nauli.

2006

PT Agincourt Resources menggantikan PT Newmont Horas Nauli untuk melanjutkan pengembangan Tambang Emas Martabe.

2007

Oxiana menjadi pemilik proyek Martabe melalui akuisisi Agincourt Resources pada awal 2007. Setelah melakukan tinjauan Definitive Feasibility Study (DFS), dewan manajemen Oxiana menyetujui pengembangan proyek emas dan perak Martabe pada Desember 2007.

2008

Studi Kelayakan, AMDAL, dan Izin Mendirikan Bangunan Tambang Emas Martabe diperoleh. Kegiatan pembangunan dimulai dengan pembukaan akses, pembangunan di wilayah laydown dan camp, dan persiapan pembangunan wilayah instalasi.

2009

G-Resources, perusahaan yang terdaftar di bursa Hong Kong, mengambil alih kepemilikan pengembangan Proyek Tambang Emas Martabe di bulan Juli.

2011

Proyek Martabe mencapai puncak kegiatan pembangunan. Lebih dari 4.000 tenaga kerja terserap, di mana 40% di antaranya direkrut dari Tapanuli Selatan dan daerah-daerah lain di Sumatera Utara.

2012

Tanggal 24 Juli, dilakukan penandatanganan perjanjian pengalihan 5% saham PT Agincourt Resources ke Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Penuangan emas pertama berlangsung pada 24 Juli.

2016

G-Resources sebagai pemegang saham utama digantikan oleh konsorsium yang dipimpin EMR Capital, entitas pemegang dana ekuitas swasta dengan spesialisasi pertambangan (61,4% saham). Dalam konsorsium tersebut juga terdapat Farallon Capital, sebuah investor keuangan global (20,6%), Martua Sitorus (11%) dan Robert Hartono & Michael Bambang Hartono (7%).

Top