Jejak Langkah

 
 
1997
2001
2003
2006
2007
2008
2009
2011
2012
2016
2017
2018
2019
2020

1997

Kontrak Karya diberikan kepada PT Danau Toba Mining, yang sebagian besar dimiliki oleh Normandy Mining, dengan tujuan eksplorasi mineral dan pertambangan emas. Area Kontrak Karya meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal, serta Kota Padangsidimpuan.

2001

Nama Perusahaan PT Danau Toba Mining diubah menjadi PT Horas Nauli.

2003

PT Newmont Horas Nauli berubah menjadi PT Horas Nauli sebagai pengelola Kontrak Karya Martabe, yang sebagian besar dimiliki oleh Newmont East Asia

2006

PT Agincourt Resourcesberubah menjadi PT Newmont Horas Nauli untuk melanjutkan pengembangan Proyek Martabe, yang sebagian besar masih dimiliki oleh Newmont East Asia.

2007

Oxiana menjadi pemilik manfaat Proyek Martabe melalui akuisisi PT Agincourt Resources. Setelah tinjauan Studi Kelayakan Definitif, Dewan Komisaris Oxiana menyetujui pengembangan Proyek Tambang Emas dan Perak Martabe pada Desember 2007.

2008

Dua puluh lima studi lingkungan dilakukan untuk proyek. Dokumen-dokumen utama dan persetujuan pemerintah diperoleh, termasuk Studi Kelayakan, AMDAL, dan izin konstruksi. Kegiatan konstruksi dimulai, termasuk untuk akses jalan, area laydown dan camp serta persiapan untuk pembangunan plant site (pabrik).

2009

G-Resources, sebuah perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Hong Kong, mengambil alih kepemilikan dan pengembangan Proyek Tambang Emas Martabe pada Juli 2009.

2011

Kegiatan konstruksi mencapai puncaknya dengan lebih dari 4.000 karyawan di site, 40% karyawan yang direkrut berasal dari masyarakat lokal. Pembangunan Fasilitas Penyimpanan Tailings disetujui.

2012

Penyelesaian konstruksi proyek diikuti dengan commissioning (uji laik operasi) dan dimulainya operasi pabrik. Persetujuan commissioning untuk pembuangan air olahan tambang diperoleh dari Kabupaten Tapanuli. Emas pertama dituang pada tanggal 24 Juli 2012. Kesepakatan pengalihan 5% saham antara PT Agincourt Resourcesdan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Provinsi Sumatera Utara ditandatangani pada tanggal 24 Juli 2012.

2016

Setelah keberhasilan penyelesaian dan penyerahan dokumentasi persetujuan, AGINCOURT RESOURCESmenerima persetujuan untuk menambang di Pit Barani dan Ramba Joring dari Pemerintah Indonesia pada Maret 2016. Selanjutnya, penambangan di Pit Barani dimulai. G-Resources sebagai pemegang saham Utama PT Agincourt Resources digantikan oleh konsorsium yang terdiri dari EMR Kapital, perusahaan dana ekuitas swasta dengan spesialisasi pertambangan Farallion Capital, perusahaan investor keuangan global, dan Robert Hartono & Michael Bambang Hartono.

2017

Penambangan dimulai di pit Ramba Joring. Pada tahun ini, AGINCOURT RESOURCES menghasilkan produksi dan eksplorasi sepanjang sejarah Perusahaan. Operasi berhasil meraih rekor penggilingan sebanyak 5,35 juta ton dengan penuangan 355.000 ounce emas. Program eksplorasi dan pengembangan sumber daya meliputi 120 meter yang dibor oleh 15 rig, kegiatan ini menghasilkan peningkatan sumber daya emas hingga 8,9 juta ounce dan peningkatan cadangan bijih emas hingga 4,8 jutaounce. Arus kas operasi yang kuat, cadangan yang meningkat, dan umur tambang yang lebih panjang memungkinkan AGINCOURT RESOURCES untuk membiayai kembali utang seniornya sebesar US$425 juta dengan jangka waktu lebih panjang, suku bunga yang lebih rendah, serta persyaratan dan ketentuan yang lebih menguntungkan.

2018

Hasil produksi pada tahun 2018 melebihi rekor tahun-tahun sebelumnya. AGINCOURT RESOURCES berhasil mengolah 5,57 juta ton bijih mineral untuk menghasilkan 410.387 ounce emas, hasil ini meningkat 15,5% dari tahun 2017. Pencapaian All In Sustaining Cost (AISC) produksi terendah sampai saat ini, yakni sebesar US$367,3 per ounce, berkontribusi terhadap catatan Laba Setelah Pajak sebesar US$167 juta. Pertumbuhan strategis perusahaan turut didukung oleh keberhasilan dalam program eksplorasi, persetujuan pemerintah untuk penambangan deposit Tor Uluala, dan pengembangan proyek pengolahan sulfide yang sedang berlangsung. Tahun 2018 juga menjadi saksi atas lancarnya masa transisi kepemilikan saham mayoritas Perusahaan. Kini, 95% saham Perusahaan dimiliki oleh PT Danusa Tambang Nusantara, yakni sebuah perusahaan yang dimiliki oleh PT United Tractors Tbk (60%) dan PT Pamapersada Nusantara (40%).

2019

AGINCOURT RESOURCES berhasil mencapai rekor pengolahan bijih, yakni sebanyak 6,0 juta ton bijih diolah untuk menghasilkan 391,031 ounce emas, di saat bersamaan tetap mampu mempertahankan All In Sustaining Cost yakni US$443/ounce. Kami berhasil mencapai rekor ini tanpa mengabaikan hasil kinerja di bidang kesehatan dan keselamatan kerja serta perlindungan lingkungan. Kami senantiasa memperhatikan aspek keberlanjutan.

2020

Selama masa pandemi COVID-19, kami telah berhasil mencapai dua tujuan yaitu (a) menjaga kesehatan dan keselamatan setiap karyawan, dan (b) terus melakukan operasi demi semua pemangku kepentingan kami. Mencapai rekor penggilingan sebanyak 6,1 juta ton sedikit lebih tinggi dari tahun 2019. Selama 3 tahun terakhir, tidak terdapat adanya kecelakaan kerja di Martabe.