Agincourt Resources Ingin Terus Berbuat Lebih untuk Lingkungan

Sekitar 200 km di sisi selatan Danau Toba, Sumatra Utara, terletak Hutan Batangtoru, yang juga disebut sebagai “Harangan Tapanuli”, sebuah ekosistem hutan tropis yang membentang seluas 150 ribu hektar mulai dari dataran rendah, perbukitan hingga pegunungan. Hutan Batangtoru merupakan salah satu hutan yang sangat penting di Sumatra. Rumah bagi 20 spesies mamalia dan 51 spesies unggas yang dilindungi. Terdapat 688 spesies tumbuhan di hutan ini, 8 di antaranya terancam punah dan 3 spesies merupakan endemik Sumatra.

Keanekaragaman hayati yang tinggi di Batangtoru memegang peran penting dalam menopang kehidupan manusia. Curah hujan sangat tinggi di ekosistem Batangtoru yang memiliki elevasi bervariasi; titik terendah adalah 133 mdpl dengan sebagian besar hutan berada di atas 850 mdpl dan titik tertinggi adalah 1.909 mdpl. Batangtoru menyimpan kekayaan dan keanekaragaman hayati yang sangat besar.

Ada sekitar 10 sub-daerah aliran sungai yang mendapatkan air dari Hutan Batangtoru. Ekosistem hutan, air dan sungai ini berfungsi penting sebagai penyangga, pengatur tata air, mencegah bencana banjir, erosi maupun tanah longsor. Air hutan ini diperlukan oleh ratusan ribu jiwa di tiga kabupaten; Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, untuk keperluan rumah tangga, perkebunan, peternakan ikan dan pertanian lahan basah. Terdapat pula proyek besar yang juga sangat bergantung pada pasokan air dari Sungai Batangtoru seperti Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Sipansihaporas, PLTA Batangtoru, proyek pembangunan geotermal Blok Sarulla dan Tambang Emas Martabe yang sangat memerlukan air untuk mengelola tambang.

Dalam hal ini sudah terlihat bahwa Hutan Batangtoru menjadi kunci penting dan menjadi induk di dalam ekosistem kawasan. Ratusan ribu penduduk, ribuan hektare sawah, puluhan peternakan ikan di tiga kabupaten yakni Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, sangat bergantung dan berkepentingan untuk menjaga kelestarian hutan Batangtoru. Penurunan kualitas ekosistem Batangtoru adalah mimpi buruk dan harus dicegah. Mutlak dan tidak bisa ditawar.

Sebagai tanggungjawab sosial, PT Agincourt Resources (PTAR), selaku pengelola Tambang Emas Martabe di Batangtoru sepenuhnya sadar bahwa kelestarian alam adalah bagian dari pekerjaan, terintegrasi dan bukan sebuah hal yang terpisah. PTAR bahkan memiliki sebuah departemen khusus untuk mengelola lingkungan bersama masyarakat. Keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh ekosistem Batangtoru dipandang oleh PTAR sebagai sebuah warisan yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi selanjutnya.

Penerapan Teknologi untuk Lingkungan

Tanggungjawab lingkungan dari PTAR sudah menjadi standar prosedur. Pengelolaan lingkungan di sekitar tambang ditangani dengan seksama, transparan, dan melibatkan pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah, perwakilan masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan tenaga ahli independen. Keseriusan PTAR dalam mengelola air sisa proses bisa dilihat dari hasil penelitian oleh tim terpadu yang dibentuk oleh Gubernur Sumatra Utara pada tahun 2013. Tim terpadu ini beranggotakan dari perwakilan pemerintah daerah, ahli dari perguruan tinggi, perwakilan karyawan PTAR dan perwakilan masyarakat dari desa/kelurahan di sekitar tambang.

Penelitian yang dilakukan Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian Universitas Sumatra Utara (USU) membuktikan bahwa air sisa proses dari Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PTAR tidak berpengaruh terhadap kualitas biota air di Sungai Batangtoru. Sementara pemantauan rutin yang dilakukan Departemen Lingkungan PTAR dan Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air Tambang Emas Martabe secara konsisten menunjukkan air sisa proses memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian USU dan hasil penelitian itu disampaikan oleh Kepala Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian USU, sekaligus Guru Besar Departemen Biologi USU, Prof. Dr. Ing. Ternala Alexander Barus, yang disampaikan di hadapan para jurnalis dalam acara silaturahmi virtual bulan Ramadhan, Selasa, 4 Mei 2021.

“Dari hasil penelitian ini, kami menemukan bahwa, tidak ada penurunan panjang dan berat ikan sejak penelitian pertama kali dilakukan pada Oktober 2012. Total terdapat 32 spesies ikan yang kami dapati. Sampel penelitian ini juga tidak kami ambil hanya di sekitar Sungai Batangtoru, tapi juga perairan di sekitar wilayah operasional tambang seperti di Aek Pahu Tombak, dan Hutamosu. Selain ikan, kami juga masih menemukan biota air lainnya seperti plankton dan bentos yang dapat menjadi indikator kondisi air yang baik untuk kehidupan biota air. Semua konsentrasi logam berat yang kami temukan di dalam ikan dari seluruh sampel, masih jauh di bawah standar berbahaya yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan,” jelas Ternala.

Lebih jauh Ternala mengemukakan, PTAR telah melakukan upaya pengelolaan dan pemantauan kualitas air sisa proses yang melampaui ketentuan Pemerintah. Pembentukan Tim Terpadu dan penelitian rutin terhadap kualitas biota air di sekitar operasional tambang, menunjukkan komitmen tinggi PTAR terhadap pengelolaan lingkungan. “Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini di industri ekstraktif hanya PTAR yang berkomitmen terhadap pengelolaan lingkungan, hingga melibatkan masyarakat melalui Tim Terpadu, dan secara berkala bekerja sama dengan lembaga independen untuk memantau kualitas biota air.”

Perlu diketahui, pengolahan emas di Martabe telah menggunakan teknologi yang lebih lanjut. Tidak seperti tambang emas tradisional yang menggunakan merkuri, Tambang Emas Martabe menggunakan sianida untuk memisahkan emas. Dalam kadar yang berlebih, larutan merkuri dan sianida sama berbahayanya untuk lingkungan dan manusia, tetapi sianida lebih mudah terurai di alam ketimbang merkuri. Namun penggunaan sianida membutuhkan teknologi dan penanganan yang lebih maju.

Mengutip hasil penelitian mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB); Nuril Hidayati, Titi Juhaeti dan Fauzia Syarif, menyatakan bahwa sianida adalah senyawa yang sering terdapat dan tidak asing lagi dalam berbagai limbah industri. Sianida di alam bebas sering muncul sebagai sianida bebas tetapi biasanya bereaksi membentuk kompleks sianida logam. Sianida sangat stabil di bawah permukaan atau tanpa cahaya, tetapi dapat mengalami fotolisis atau terurai dengan cepat di permukaan air atau permukaan tanah yang terpapar cahaya matahari dan melepaskan sianida bebas yang tidak berbahaya.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa sangat mungkin untuk menggunakan tanaman untuk remediasi sianida di lingkungan perairan dan menyaring spesies tanaman yang sesuai dengan kondisi lokal. Fitroremediasi kontaminasi sianida dipelajari dengan menggunakan tanaman sianogenik yang mensintesis glukosida sianogenik, senyawa yang mudah terurai menjadi sianida ketika jaringan tanaman terluka. Karena sianida adalah komponen alami dari tanaman ini, mereka telah meningkatkan kapasitas untuk mendegradasi sianida. Penelitian fitoremediasi menggunakan Urtica dioica (jelatang) dan Sinapis arvensis (sejenis sawi liar) pada cekungan terkontaminasi dengan memanen bagian atas setelah dua periode vegetatif menghilangkan kontaminan (penelitian oleh Gerth tahun 2000).

Fitroremediasi sendiri adalah proses detoksifikasi lingkungan menggunakan tanaman hijau yang mampu menghilangkan, menyerap, atau mengubah berbagai kontaminan yang berbahaya bagi lingkungan. Standar baku keamanan terhadap lingkungan diterapkan juga pada air sisa produksi.

Sebelum melepas air sisa olahan ke dalam sungai, PTAR menerapkan prosedur yang sangat ketat. Air dalam jumlah besar yang belum mencapai standar keamanan lingkungan ditampung dalam dam besar, kemudian sedikit demi sedikit dialirkan ke dalam fasilitas pengolahan saat hujan turun. Air yang telah melalui proses pengolahan dan telah memenuhi standar ambang batas yang diuji di laboratorium kemudian dilepas ke arah sungai dengan disaksikan pihak yang berkepentingan. Air dari alam dikembalikan ke alam dengan kadar yang telah memenuhi standar kualitas air Sungai Batangtoru.
“Seluruh fasilitas pengolahan milik PTAR di bawah pengawasan ketat berjenjang mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara hingga Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan” ujar Wira Dharma Putra, Senior Manager Processing PTAR. “Proses pengolahan di tambang kami dilakukan sampai benar-benar netral dan aman.”

Perusahaan yang merekrut 70% karyawannya dari penduduk lokal ini menorehkan rekam jejak yang memuaskan sejak tahun 2013 dalam hal pengelolaan lingkungan. Tambang emas ini meraih penghargaan Utama (Perak) untuk kategori pemegang Kontrak Karya di bidang Pengelolaan Keselamatan Pertambangan dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2013 dan tahun berikutnya berturut-turut hingga tahun 2017. Setelah itu kembali meraih penghargaan peringkat Biru PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2014-2015 hingga 2016 untuk kategori Pengelolaan Lingkungan. PTAR juga memperoleh penghargaan Terbaik pada ajang Indonesia Sustainable Business Award 2019 atau Penghargaan Bisnis yang Berkelanjutan di Indonesia yang digagas Global Initiatives dan PwC Singapura dan Indonesia di Jakarta pada 21 Februari 2020. Penghargaan Terbaik untuk kategori Land Use & Biodiversity ini diperoleh atas keberhasilan PTAR yang dinilai berkomitmen dalam rehabilitasi dan pemulihan ekosistem hutan.

Perusahaan yang bernaung di bawah Grup PT Astra Internasional Tbk. ini tidak pernah absen meraih penghargaan di berbagai bidang sejak tahun 2013. Beberapa diantaranya adalah peringkat Platinum pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2019, satu Penghargaan Utama (perak) untuk kategori Pengelolaan Lingkungan Pertambangan Mineral (untuk Pemegang Izin Kontrak Karya), serta dua penghargaan Pratama (Perunggu) untuk kategori Pengelolaan Keselamatan Pertambangan Mineral & Pengelolaan Standardisasi dan Usaha Jasa Pertambangan pada tahun 2020 yang diselenggarakan Ditjen Minerba KESDM, penghargaan dari PWI pada tahun 2019 dan Subroto Award pada tahun 2019 yang diserahkan langsung oleh Menteri ESDM waktu itu, Ignasius Jonan.

Akhir 2020 lalu PTAR juga diganjar penghargaan oleh Ditjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem) Kementerian Lingkungan Hidup karena terlibat aktif dalam usaha perawatan dan pelepasliaran Sri Nabila, seekor Harimau Sumatra betina yang dilepaskan di Taman Nasional Gunung Leuser, Gayo Lues, Aceh, kurang lebih 500 km jauhnya dari Tambang Emas Martabe. “Dukungan yang diberikan PTAR merupakan bukti komitmen perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Perusahaan tak hanya selalu mempertahankan pencapaian kepatuhan pengelolaan lingkungan sesuai perundang-undangan tapi juga secara aktif mendukung pemerintah pusat dan daerah, khususnya di wilayah operasional tambang untuk mengelola lingkungan secara berkelanjutan, salah satunya dukungan perlindungan atas flora dan fauna,” ujar Sanny Tjan, Direktur Hubungan Eksternal PTAR.

Tidak hanya dukungan untuk “Sri Nabila”, PTAR bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, juga aktif mendukung penyelamatan unggas yang dilindungi yakni burung nuri merah (Red Lory/Eos Bornea), burung berparuh besar (Rhinoceros) dan elang (Niseaetus Cirrhatus). Daftar fauna yang diselamatkan oleh BBKSDA bersama PTAR masih bertambah karena tim dari BBKSDA dan PTAR aktif memberikan penyuluhan dan pengarahan kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Berbuat Lebih Untuk Lingkungan

Namun berbagai penghargaan itu tidak membuat PTAR berpuas diri. PTAR ingin berbuat lebih mengingat penghargaan kepada masyarakat dan lingkungan di sekitar tambang. PTAR sangat bergantung dan peduli terhadap keberlangsungan lingkungan dan berkepentingan untuk menjaga keanekaragaman hayati dari kawasan Batangtoru.

Penanaman kembali area tambang yang telah selesai digunakan merupakan prosedur standar, tetapi menjaga kelestarian alam di luar area tambang juga menjadi tanggungjawab PTAR bersama masyarakat.

Berbasis pada penelitian fitroremediasi, PTAR bersama masyarakat melakukan penanaman pohon dari jenis yang banyak tumbuh di area Batangtoru. PTAR menyemaikan ribuan bibit pohon dari berbagai jenis spesies lokal dan membagikan secara cuma-cuma bibit itu kepada masyarakat untuk ditanam.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun 2021 dilaksanakan di Agincourt Resources dengan tema Biodiversity and The Balance of Ecosystem. Dalam peringatan tersebut, pada 5 Juni 2021 Agincourt Resources melakukan penanaman 300 bibit pohon trembesi, sengon, dan waru di Sabar Dump melibatkan perwakilan manajemen dan karyawan, kontraktor, TNI, Polri, dan Brimob setempat. Tujuan menanam jenis pohon ini dapat tumbuh dengan cepat seperti sengon dan trembesi untuk mendapatkan faktor peneduh. Beberapa tanaman tidak dapat tumbuh baik di area terbuka, karena itu kami menanam pohon perintis yang bisa mengikat nitrogen dan membuat tanah menjadi subur.

Dalam sambutan kegiatan Hari Lingkungan Hidup tahun 2021, Ruli Tanio, Direktur Engineering PTAR menyampaikan, “Tema ini memiliki makna penting karena aktivitas pelestarian alam menyangkut masa depan anak cucu dan generasi kita selanjutnya. Karena saat kita menanam pohon, itu sama dengan kita sedang menanam doa, menanam harapan, menanam kerja kita semuanya untuk keberlanjutan kehidupan. Penanaman pohon ini mengajak kita semua untuk teguhkan semangat dan aksi kita untuk menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem.”

Keberhasilan PTAR dalam menanam kembali lahan bekas tambang dapat dilihat dari hadirnya banyak spesies hewan di ekosistem baru yang terbentuk dari bibit pohon hasil semai departemen lingkungan PTAR. Hewan-hewan tersebut adalah berbagai jenis burung seperti Cinenen Merah (Orthotomus sericeus), burung madu rimba (Hypogramma hypogrammicum), burung kacer (Copsychus saularis), Kehicap Ranting (Hypothimis azurea), Rimbang Pongpong (Macronous ptilosus) hingga berbagai jenis katak seperti katak hijau (Hylarana erythraea), kodok bangkong kolong (Duttaphrynus melanostictus), katak Kongkang jangkrik(Hylarana nicobariensis), katak pohon (Polypedates otilopus), katak pohon bergaris atau gedindang (Polypedates leucomystax) dan juga mamalia seperti ular piton, kambing hutan, kura-kura jenis Manouriaemys danAmydacartilagenia. Jenis pohon yang ditanam dan dapat mengembalikan kesuburan tanah sehingga dapat memberikan habitat yang baru bagi banyak spesies tersebut mulai dari sengon, waru, meranti merah hingga durian. Ada pula tanaman endemik lokal sepertiStyrax Paralleloneurum atau kemenyan toba yang banyak tumbuh di daerah Tapanuli.

PTAR tidak berhenti mengembalikan “utang” kepada alam dengan hanya berfokus pada flora, PTAR juga bekerjasama dengan pusat penangkaran hewan liar, dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara untuk melestarikan hewan liar yang terjebak atau dipelihara secara ilegal oleh penduduk.

Dalam kerjasama ini beberapa kali PTAR terlibat dalam merawat dan melepasliarkan hewan langka yang dilindungi seperti anak macan tutul, kera ekor panjang, siamang, Harimau Sumatra, trenggiling dan kukang. Hewan-hewan tersebut ditemukan di area pemukiman penduduk yang berdekatan dengan hutan lindung dan ada pula yang dipelihara dengan dirantai oleh penduduk, tetapi kemudian oleh petugas BBKSDA Sumut membujuk warga yang mengikat kera itu untuk menyerahkan untuk dirawat dan dilepasliarkan. Seluruh kegiatan tersebut didukung oleh PTAR.

Staff dari BBKSDA Sumut bersama PTAR juga secara berkala memberikan penyuluhan kepada warga setempat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memberikan kesadaran untuk tidak menangkap dan memburu hewan yang langka yang dilindungi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kesadaran masyarakat secara umum sudah sangat baik, mereka juga menjaga kearifan lokal untuk tidak berkonflik dengan hewan-hewan yang secara tidak sengaja masuk ke pemukiman mereka. Masyarakat memilih menghindar atau mengusir dengan cara yang baik saat hewan-hewan tersebut datang ke desa mereka.

Tetapi ada beberapa kasus di dalam hutan ketika tim BBKSDA Sumut melakukan patroli dan menemukan perangkap yang dipasang oleh pemburu liar. Karena itu mereka bersama PTAR tidak henti-hentinya melakukan penyuluhan kepada masyarakat dengan menggandeng tokoh adat dan pemuka agama.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PTAR, Katarina Siburian Hardono, menegaskan bahwa dukungan terhadap pengelolaan lingkungan di luar wilayah kerja PTAR merupakan sebuah komitmen jangka panjang untuk menerapkan praktik pengelolaan lingkungan berkelanjutan selain di lingkungan internal operasional Tambang Emas Martabe. Kegiatan pengelolaan lingkungan berkelanjutan di dalam area tambang salah satunya melalui program rehabilitasi.

Pada tahun 2019, PTAR telah mengajukan revisi dokumen penutupan tambang dengan nilai jaminan US$28,3 juta sehingga seluruh area operasional tambang telah memiliki rencana penutupan tambang. “Sepanjang tahun lalu pula, total 35,5 hektare area telah distabilkan dengan tanaman penutup. Sebanyak 2.886 bibit telah ditanam selama 2019 dan perusahaan telah menyiapkan 5.828 bibit dari 45 spesies tanaman di fasilitas pembibitan(nursery),” ungkap Katarina.

Dari sini bisa terlihat jelas komitmen PTAR yang tidak hanya terbatas di dalam area tambang tetapi juga memiliki komiten untuk mendukung kelestarian alam dan ekosistem di luar area tambang. PTAR aktif bekerjasama dengan berbagai pihak untuk bersama-sama mengelola dan melestarikan lingkungan di kawasan Batangtoru karena pada prinsipnya, alam yang kita diami saat ini adalah milik generasi mendatang dan tanggungjawab dalam menjaganya merupakan kewajiban semua pihak. ***

judi online baccarat togel idn play tangkas88 infini88 slot bonanza88 slot online agen sbobet pragmatic slot pulsa sbobet slot deposit dana situs judi online selot autowin88 slot vegasslot pokerseri joker123