Jenis Limbah Tambang Emas dan Pemanfaatannya Secara Tradisional 

jenis-limbah-tambang-emas-dan-pemanfaatannya-secara-tradisional

Pada umumnya jenis limbah dari pertambangan memiliki tiga jenis yaitu zat cair, gas, dan padatan.

Hal ini berlaku di pertambangan emas, mulai dari proses pengerukan, pemisahan dari batuan lainnya, serta pemurnian kadarnya. Keseluruhan proses tersebut memerlukan bantuan zat kimia aktif, seperti pemanfaatan sianida untuk menghindari terbentuknya merkuri. Pemecahan bijih juga menghasilkan lumpur yang cukup banyak. Penggunaan alat – alat berat juga memberikan efek signifikan terhadap perubahan komposisi dan kemurnian udara di sekitar pertambangan. Salah satu cara untuk mengatasinya yaitu dengan melakukan pengolahan limbah tambang emas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi zat – zat berbahaya dan pengolahan material yang masih bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu, pemrosesan limbah tersebut wajib dilakukan, karena dapat mengurangi dampak dan memberikan manfaat yang sangat besar. Salah satu pengolahan limbah yang lazim dilakukan dengan mengubahnya menjadi bahan bangunan.

Baca Juga: Identifikasi Daerah Penghasil Emas yang Penting untuk Diketahui

Pemanfaatan Limbah Tambang Emas Sebagai Bahan Bangunan

Salah satu tujuan pembangunan dari Indonesia adalah pembangunan berkelanjutan yang berarti tercipta keseimbangan antara ekonomi serta lingkungan. Hal ini juga berarti bahwa eksploitasi sumber daya secara berlebihan atau pembangunan dengan dampak negatif mulai dikurangi. Salah satunya dengan mengelola hasil pertambangan yang saat ini menjadi isu penting. Urgensi ini ternyata membawa ide baru dalam pengelolaannya, yaitu memanfaatkan tailing dari limbah tambang emas menjadi bahan bangunan, salah satunya sebagai pencampur beton. Tailing memiliki kandungan melebihi batas minimal sebagai pencampur beton. Selain itu, tailingnya sudah terbebas dari logam berat atau sianida hasil dari percampuran dengan semen.

Salah satu proses yang dilalui sebelum menjadikan tailing dari limbah tambang emas sebagai material bangunan ramah lingkungan adalah stabilisasi/solidifikasi (S/S). S/S ini memberikan efek untuk mengurangi mobilitas logam berat dalam suatu material. Proses tersebut dapat terjadi karena adanya interaksi antara tailing dan zat bersifat pozzolan (seperti semen). Campuran tersebut membentuk padatan keras monolit yang terjadi karena sifat kimia dari tailing serta fisik semennya. Hal ini menjadikannya sebagai bahan bangunan ramah lingkungan atau dikenal sebagai Green Fine Aggregate (GFA). Ketahanannya sendiri sudah memenuhi persyaratan minimum, yaitu dengan campuran 50% semen dapat menahan 40 MPa.

Manfaat yang Akan Dirasakan

Manfaatnya dapat dirasakan dalam berbagai bentuk, mulai dari paving block, genteng, batako, panel/tiang, dan berbagai material bangunan lainnya. Material berlimpah menjadikannya sebagai alternatif bahan bangunan berkualitas. Untuk memanfaatkannya bisa dirupakan dalam berbagai bentuk, mulai dari program CSR atau menjualnya secara bebas. Sosialisasi tentang manfaat serta proses pengolahan limbah tambang emas bisa menjadi salah satu langkah kampanye kesadaran mengurangi limbah pertambangan. Indonesia memiliki potensi mineral tinggi, mulai dari emas, perak, minyak bumi, dan berbagai mineral lainnya. Namun salah satu kendalanya adalah memanfaatkan limbahnya. Tetapi kini dengan proses s/s limbah tambang emas bisa jadi bahan bangunan yang berkualitas tinggi dan tinggi akan manfaat.

Baca Juga: Dari Pengolahan Emas, Ini 5 Manfaat yang Dapat Anda Nikmati

Jika Anda tertarik dengan informasi-informasi mengenai emas atau pertambangan emas, Anda bisa membaca artikel-artikel dari PT. Agincourt Resource di sini.